Prabowo Dipolisikan, Timses Tuding Pelapor Hanya Cari Sensasi

JawaPos.com – Kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menilai, pelaporan yang dilayangkan oleh seorang warga bernama Dakun terhadapo Prabowo Subianto ke Polda Metro Jaya soal tampang Boyolali hanya sekadar cari sensasi. Hal ini dikatakan Juru Bicara Badan Pemanangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Ferdinand Hutahaean.

Menurut Ferdinan, si pelapor tidak mengerti apa maksud yang diucapkan pria berjuluk 08 ini pada pidato di Boyolali beberapa waktu lalu.‎ Sehingga ia menilai pelapor hanya ingin cari panggung saja.

‎”Saya pikir pelapor itu cuma sedang cari panggung saja dikancah hingar bingar politik. Pelapor tidak mengerti dan tidak‎ memahami semangat ucapan yang disampaikan oleh Prabowo,” ujar Ferdinand kepada JawaPos.com, Sabtu (3/11).

Menurut Kepala Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat ini, pidato Prabowo Subianto sebenarnya ingin mengangkat semangat perjuangan masyarakat bawah yang selama ini dimarjinalkan oleh kekuasaan.

Misalnya, soal ketimpangan semakin tinggi antara orang kaya dengan masyarakat yang tidak mampu. Sehingga inilah semangat yang ingin dibakar oleh Prabowo Subianto, agar masyarakat bangkit mengangkat kesejahteraannya.

“Karena memang rakyat harus makmur bersama, tidak seperti sekarang, yang miskin makin miskin, yang kaya makin kaya,” katanya.

Sehingga menurut Ferdinand, apa yang disampaikan oleh Prabowo Subianto sebenarnya tidak ada yang salah. Namun ini sudah tahun politik ada saja pihak-pihak yang tidak suka dengan melakukan kecaman ke mantan Danjen Kopassus ini.

“Dengan menyatakan itu, Prabowo ingin memprovokasi semangat untuk bangkit sejahtera bersama, bukan bertujuan untuk melecehkan atau menghina,” pungkasnya.

Sebelumnya, pidato calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto di Boyolali, Jawa Tengah, pada Selasa (30/10) lalu, berujung panjang. Pasalnya mantan Danjen Kopassus itu dilaporkan Seorang warga Boyolali bernama Dakun, 47, ke SPKT Polda Metro Jaya.

Laporan tersebut diterima dengan Nomor : LP/6004/XI/2018/PMJ/Dit.Reskrimsus tertanggal 2 November 2018. Dalam laporan itu Prabowo diduga mendistribusikan informasi elektronik yang bermuatan kebencian.

Dalam laporan itu juga dia dijerat dengan Pasal 28 ayat 2 Juncto Pasal 45A ayat 2 UU RI Nomor 19 tentang ITE dan atau Pasal 4 huruf b angka 2 Juncto Pasal 16 UU RI Nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan atau Pasal 156 KUHP.

Dakun melaporkan Prabowo karena merasa tersinggung dan terhina karena ucapan Prabowo soal ‘tampang Boyolali’. Saat menyambangi SPKT Polda Metro Jaya dengan didampingi oleh kuasa hukumnya Muannas Alaidid.

Dakun mengaku dirinya merasa telah dilecehkan dengan ucapan yang disampaikan oleh Prabowo. Kata-kata Prabowo itu seolah-olah menyatakan jika warga Boyolali miskin dan tidak pernah masuk mall dan hotel.

“Jadi saya sebagai warga Boyolali merasa tersinggung dengan ucapan Pak Prabowo bahwa orang Boyolali itu terkesan miskin dan tidak pernah masuk mall atau hotel, padahal yang namanya hotel di Jakarta ini saya sendiri contohnya sering (ke hotel dan mall),” ujarnya, Jumat (2/11).

Adapun, Prabowo Subianto memberikan pidato saat pemeresmian posko dirinya dan Sandiaga Uno di Boyolali. Namun belakangan pidato ini viral karena menyebut warga Boyolali tidak mampu masuk hotel berbintang, karena memiliki tampang bukan orang kaya.

Berikut ini kutipan kalimat yang diucapkan oleh Prabowo Subianto dalam video berdurasi 58 detik tersebut.

“Hotel-hotel mewah sebut saja hotel di dunia yang paling mahal ada di Jakarta, ada Ritz Charlton, ada Waldorf Astoria. Namanya saja kalian enggak bisa sebut, dan macam-macam itu semua saya yakinkalian tidak pernah masuk hotel-hotel tersebut. Betul (betul jawab peserta), dan kalau masuk, mungkin kalian diusir, mungkin tampang-tampang kalian tidak tampang orang kaya. Tampang-tampang kalian tampang Boyolali ini,” kata Prabowo dalam pidatonya.

(gwn/JPC)